Pendeta Hindu Lombok Turun ke Lokasi Kebakaran Sade: Toleransi Bukan Isapan Jempol
Lambelombok| Loteng— Toleransi antarumat beragama kembali ditunjukkan secara nyata pascakebakaran yang melanda kawasan Desa Sade, Lombok Tengah. Kepedulian itu ditunjukkan oleh Pendeta Hindu Lombok, Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali, yang turun langsung bersama umat Hindu ke lokasi kebakaran untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada warga terdampak.
Kehadiran Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali bersama umat Hindu dilakukan secara spontan setelah mendengar kabar musibah kebakaran yang menimpa warga Sade. Meski datang secara dadakan, kedatangan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat, termasuk Kepala Dusun (Kadus) dan Ketua RT.
Suasana perjumpaan berlangsung penuh keakraban. Perbedaan agama dan keyakinan tidak menjadi sekat. Warga Sade dan umat Hindu yang hadir berbaur dalam suasana kekeluargaan, layaknya saudara yang saling menguatkan ketika salah satu sedang menghadapi musibah.
Kepala Dusun dan Ketua RT setempat menyampaikan apresiasi serta rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan. Kehadiran tersebut dinilai bukan hanya sebagai bentuk dukungan moral, tetapi juga menjadi bukti nyata kuatnya hubungan sosial dan persaudaraan antarumat beragama di Lombok.
Di hadapan warga terdampak, Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali memberikan semangat agar masyarakat tetap kuat dan tabah menghadapi musibah.
“Kita ini memang berbeda, tetapi tetap satu sebagai saudara. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan bukan menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi kekuatan untuk saling mengasihi dan menjaga kerukunan,” pesannya.
Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata atau menjadi wacana dalam berbagai forum. Toleransi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama ketika saudara sesama manusia sedang menghadapi kesulitan.
“Kerukunan antarumat beragama harus dipraktikkan, bukan hanya menjadi wacana atau isapan jempol belaka. Ketika ada saudara kita terkena musibah, kita hadir memberikan semangat dan kepedulian. Itu baru toleransi yang sebenarnya. Itu baru Oke Lalok,” ungkapnya.
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat persaudaraan dan kemanusiaan mampu melampaui perbedaan agama dan keyakinan. Musibah yang dialami warga Sade justru menjadi momentum untuk memperkuat rasa persaudaraan serta menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
Pesan yang terlihat sederhana, namun memiliki makna mendalam: toleransi bukan sekadar slogan. Toleransi adalah ketika perbedaan tidak menghalangi kita untuk hadir, peduli, dan saling membantu.

Posting Komentar