Nadya Swari Denpasar Bali dan Pendeta Hindu Lombok Turut Berduka atas Kebakaran Kampung Adat Sade
Lambelombok|loteng— Kebakaran yang meludeskan sejumlah bangunan di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah, mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Rasa duka dan keprihatinan datang dari umat Hindu di Bali dan Lombok yang turut hadir langsung untuk memberikan dukungan moral kepada warga terdampak.
Salah satunya ditunjukkan oleh perkumpulan Nadya Swari Denpasar, Bali, yang dalam kunjungannya ke lokasi kebakaran berjumpa dengan Pendeta Hindu Lombok, Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali.
Kedatangan rombongan tersebut tidak lain untuk menyampaikan rasa duka sekaligus memberikan dukungan dan motivasi kepada masyarakat Kampung Adat Sade yang terdampak musibah. Kehadiran mereka mendapat sambutan hangat dari Kepala Dusun (Kadus), Ketua RT, serta masyarakat setempat.
Rasa duka yang mendalam mendorong umat Hindu dari Denpasar, Bali, bersama Pendeta Hindu Lombok untuk datang langsung ke lokasi. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari ikatan persaudaraan dan kekeluargaan untuk saling menguatkan serta memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Kepala Dusun dan Ketua RT setempat menyampaikan apresiasi serta terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan. Menurut mereka, kehadiran tersebut bukan hanya menjadi dukungan moral bagi warga terdampak, tetapi juga menunjukkan kuatnya hubungan sosial dan persaudaraan antarmanusia, khususnya antara masyarakat Bali dan Lombok.
Di hadapan warga terdampak, kelompok Nadya Swari Denpasar Bali yang diwakili Ayu Aryani menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya. Rombongan menyempatkan diri datang ke lokasi setelah melaksanakan ritual persembahyangan di Pura Penataran Kebaluan Rinjani.
Ayu mengaku merasakan kesedihan mendalam ketika melihat secara langsung kondisi Kampung Adat Sade pascakebakaran.
"Melihat langsung kondisi di lokasi, bulu kuduk saya merinding. Kami merasakan duka yang mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudara kita di Kampung Adat Sade," ungkap Ayu.
Ia mendoakan agar seluruh warga terdampak diberikan kekuatan, ketabahan, dan segera mampu bangkit dari musibah yang terjadi.
Selain memberikan dukungan moral, rombongan Nadya Swari juga memberikan santunan secara spontanitas kepada warga terdampak. Santunan tersebut diserahkan langsung kepada Kepala Dusun Sade untuk membantu meringankan beban masyarakat.
Sementara itu, Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada umat Hindu dari Denpasar, Bali, yang telah meluangkan waktu datang ke Lombok untuk menemui saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.
Menurutnya, kunjungan tersebut memiliki makna yang sangat dalam karena menjadi wujud nyata persaudaraan dan kemanusiaan.
"Terima kasih kepada umat Hindu Denpasar Bali yang telah menyediakan waktunya datang ke Gumi Sasakke Lombok. Lombok Sasakke dimaknai sebagai satu jalan pulang, yaitu jalan yang lurus, jujur dan penuh kebaikan. Datang menemui saudara yang terkena musibah, khususnya masyarakat Kampung Adat Sade, merupakan sebuah kewajiban yang baik karena kita semua adalah bagian dari Bhinneka Tunggal Ika," ujar Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali.
Ia juga berpesan kepada masyarakat yang terdampak kebakaran agar tetap kuat dan tabah menghadapi cobaan.
"Kita ini memang berbeda, tetapi tetap satu sebagai saudara. Seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan bukan menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi kekuatan untuk saling mengasihi dan menjaga kerukunan," pesannya.
Menurut Padanda, toleransi tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata atau menjadi wacana dalam berbagai forum. Toleransi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama ketika sesama manusia sedang menghadapi kesulitan.
"Kerukunan antarumat beragama harus dipraktikkan, bukan hanya menjadi wacana atau isapan jempol belaka. Ketika ada saudara kita terkena musibah, kita hadir memberikan semangat dan kepedulian. Itu baru toleransi yang sebenarnya. Itu baru Oke Lalok," tegasnya.
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat persaudaraan dan kemanusiaan mampu melampaui perbedaan agama, suku, ras, golongan maupun keyakinan.
Musibah yang dialami warga Kampung Adat Sade justru menjadi momentum untuk memperkuat rasa persaudaraan serta menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat, khususnya hubungan sosial dan kekeluargaan antara Bali dan Lombok.
Pesannya sederhana, tetapi memiliki makna mendalam: toleransi bukan sekadar slogan. Toleransi adalah ketika perbedaan tidak menghalangi kita untuk hadir, peduli, dan saling membantu.

Posting Komentar