Iklan
Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan

Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli

Mulud Adat Bayan 2026 resmi dibuka dengan dentuman gendang di Desa Bayan, 

Lambenyalombok|LOMBOK UTARA, NTB — Mulud Adat Bayan 2026 resmi dibuka dengan dentuman gendang di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Kamis (27/8) sore. Masuknya tradisi tahunan tersebut dalam daftar 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus menjaga keaslian budaya.

Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sinta M. Iqbal, yang hadir dalam pembukaan, mengingatkan masyarakat agar pengakuan nasional terhadap Mulud Adat Bayan tidak justru menggerus otentisitas tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gendang secara simbolis oleh Sinta M. Iqbal bersama unsur pemerintah dan tokoh masyarakat. Mulud Adat Bayan kini menjadi salah satu event unggulan nasional setelah masuk dalam kurasi Kementerian Pariwisata RI melalui KEN 2026.

Sinta menegaskan, masyarakat NTB, khususnya warga Bayan, harus bangga sekaligus memiliki tanggung jawab besar dalam merawat budaya yang telah diwariskan para leluhur.

“Warga Nusa Tenggara Barat, terutama warga Bayan, harus sangat berbangga hati dan menjaga betul budaya yang saat ini sudah ada,” tegasnya.

Menurut Sinta, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan ritual dan tradisi. Regenerasi juga menjadi hal penting agar pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai budaya dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

Ia secara khusus menyoroti keberadaan tenun khas Lombok Utara dan Jong, aksesori tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Di tengah semakin sulitnya menemukan tenun khas KLU, Sinta mengapresiasi upaya memperkenalkan keterampilan menenun kepada generasi muda sejak usia sekolah.

“Saya titip kepada Pak Kades, Pak Kadus, dan Pak Camat untuk terus menghidupkan ini. Ajarkan juga di sekolah-sekolah. Keunikan tenun KLU dan Jong ini harus terus kita gaungkan. Jangan sampai generasi muda tidak mengenal budayanya sendiri,” ujarnya.

Keunikan tenun khas Lombok Utara dan Jong sebelumnya juga mendapat perhatian Ketua Umum Dekranas, Selvi Gibran Rakabuming. Sinta berharap perhatian tersebut menjadi dorongan agar kekayaan budaya lokal tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi mampu berkembang sebagai identitas sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Pesan menjaga budaya tersebut sejalan dengan tema Mulud Adat Bayan 2026, yakni “Bayan in Harmony: Merawat Tradisi, Menjaga Bumi.”

Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata RI, Reza Fahlevi, yang hadir mewakili Menteri Pariwisata, mengatakan tema tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata nasional yang mengedepankan keberlanjutan serta manfaat langsung bagi masyarakat.

“Ukuran keberhasilan sebuah event bukan hanya seberapa ramai acaranya, tetapi seberapa besar manfaatnya yang kembali kepada masyarakat, mendorong kunjungan wisatawan, menggerakkan UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Lombok Utara, Sahabudin, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, mengatakan Mulud Adat Bayan menjadi gambaran harmonisasi antara nilai keagamaan dan kearifan lokal yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bayan.

“Maulid Adat memberikan gambaran bahwa agama dan budaya saling berdampingan dan melengkapi di Lombok Utara. Kegiatan ini juga menunjukkan masyarakat kami inklusif dan terbuka melalui akulturasi budaya Sasak, Jawa, hingga Bali,” ujarnya.

Pembukaan Mulud Adat Bayan 2026 turut dihadiri unsur Forkopimda NTB dan Lombok Utara, tokoh adat, serta ribuan masyarakat. Festival 1000 Jong yang melibatkan anak-anak hingga perempuan masyarakat lokal menjadi salah satu atraksi utama.

Kehadiran generasi muda dalam rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tradisi Bayan masih hidup dan terus diwariskan kepada generasi penerus.

Masuknya Mulud Adat Bayan dalam KEN 2026 membuka peluang lebih besar bagi Bayan untuk semakin dikenal di tingkat nasional maupun dunia. Namun, pesan utama dari pembukaan festival tersebut tetap sederhana: semakin jauh sebuah tradisi melangkah, semakin kuat pula akar budayanya harus dijaga.

Sebab, nilai utama Bayan bukan hanya terletak pada kemeriahan perayaannya, tetapi pada keaslian warisan budaya yang tetap hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.(rils-uy)


Baca Juga:
Tersalin ��

Berita Terbaru

  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli
  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli
  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli
  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli
  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli
  • Mulud Adat Bayan Masuk KEN 2026, Sinta Titip Tradisi Tetap Asli

Posting Komentar

Iklan
Iklan