Toleransi Gumi Sasak Bukan Sekadar Slogan, Pura Awan Renjani Parwata Jadi Simbol Harmoni
![]() |
| Toleransi Gumi Sasak Bukan Sekadar Slogan, Pura Awan Renjani Parwata Jadi Simbol Harmoni |
Lambenyalombok|LOMBOK UTARA, NTB — Toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Gumi Sasak bukan sekadar slogan. Nilai tersebut tercermin dalam pelaksanaan Upacara Pujawali/Piodalan di Pura Awan Renjani Parwata, Dusun Pegadungan, Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., MH. Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan terhadap keberagaman adat, budaya dan tradisi yang tumbuh berdampingan di tengah masyarakat Lombok.
Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., MH mengatakan, hubungan antara kearifan lokal Hindu Bali dan Sasak Lombok bukanlah sesuatu yang baru. Menurutnya, hubungan tersebut telah terjalin sejak zaman leluhur Sasak dan Bali.
Ia mengaku terpukau melihat Pura Awan Renjani Parwata yang tampil sederhana, namun kuat dengan nilai-nilai kearifan lokal Hindu Sasak Lombok.
“Pura ini sederhana, tetapi penuh dengan nilai kearifan lokal. Di sini terlihat harmonisasi adat, seni, budaya, manusia, alam dan Tuhan,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai simbol dan tradisi di kawasan pura memperlihatkan kuatnya identitas budaya Sasak. Di antaranya patung Sasak-Garuda, tradisi Mesimbik/Mebasme, tarian hingga kesenian Cepung Sasak yang sarat makna tentang kebaikan dan warisan leluhur.
“Ini Hindu Sasak yang sebenarnya. Kalau tidak karena hati yang bersih dan tulus, tidak mungkin umat Hindu berbondong-bondong datang ke tempat ini untuk melakukan persembahyangan. Pura Awan Renjani Parwata ini benar-benar menampilkan Sasak Lombok tulen. Oke Lalok,” katanya.
Hal senada disampaikan anggota DPRD yang akrab disapa Pak Ical. Ia menilai keberadaan Pura Awan Renjani Parwata menjadi gambaran nyata moderasi dan kerukunan antarumat beragama di jalur pendakian Rinjani melalui Pegadungan, Senanga, Desa Sambik Elen.
Namun, ia mengakui akses menuju kawasan tersebut masih menghadapi persoalan karena kondisi jalan yang rusak cukup parah. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap infrastruktur menuju lokasi.
Menurutnya, temuan mengenai kondisi jalan tersebut akan menjadi bahan untuk mendorong perbaikan akses sehingga masyarakat maupun umat yang hendak melakukan persembahyangan dapat lebih mudah mencapai kawasan pura.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTB, I Wayan Karioka, menegaskan pentingnya menjaga hubungan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat sebagai bagian dari menciptakan kondusivitas dan kerukunan antarumat beragama.
“Kerukunan dan toleransi bukan hanya kata-kata atau simbol. Di Pura Awan Renjani Parwata ini kita melihatnya secara nyata,” ujarnya.
Ia menilai Pura Awan Renjani Parwata memiliki karakter tersendiri karena mengangkat kearifan lokal Sasak Lombok yang berpadu dengan nilai-nilai spiritual Hindu.
Apresiasi juga disampaikan Rektor IAHN Gde Pudja Mataram, Prof. Mangku Wirata. Ia melihat Pura Awan Renjani Parwata memiliki nilai inspiratif, terutama dalam mengangkat kembali ajaran leluhur Nusantara di Gumi Sasak.
Ia berharap keberadaan pura tersebut terus berkembang dan menjadi salah satu ruang persatuan antarumat beragama di Gumi Sasak.
Menurutnya, berbagai simbol di kawasan pura, termasuk Garuda Pancasila dan nuansa Merah Putih, membawa pesan tentang persatuan, cinta Tanah Air dan keharmonisan kehidupan.
Keberadaan Pura Awan Renjani Parwata menunjukkan bahwa tempat ibadah tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga dapat menjadi ruang perjumpaan budaya dan persaudaraan antarumat.
Semangat tersebut tidak terlepas dari bimbingan Padanda Gde Made Bhuana Raksa Sebali Waesnawa yang turut mengembangkan nilai spiritual, budaya dan kearifan lokal di kawasan tersebut.
Kesederhanaan Pura Awan Renjani Parwata justru menjadi kekuatan tersendiri. Di balik kesederhanaannya tersimpan pesan tentang perjuangan, kebenaran, persatuan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Pujawali di Pura Awan Renjani Parwata pun tidak hanya menjadi momentum persembahyangan umat Hindu, tetapi juga memperlihatkan wajah toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat Gumi Sasak.
Toleransi bukan sekadar slogan. Ia hadir ketika masyarakat mampu saling menghormati, menjaga budaya, merawat alam dan hidup berdampingan dalam semangat persatuan. Oke Lalok.(rils-uy)

Posting Komentar